Buku The Interpretation of Culture karya Clifford Geertz adalah buku kumpulan esai di mana sebagian besar esai itu pernah dipublikasikan di berbagai penerbiatan ilmiah—kecuali bab satu. Esai-esai dalam buku itu seluruhnya berkaitan dengan konsep-konsep kebudayaan. Yang lebih menarik, kebanyakan dari esai-esai dalam bukunya itu berisi pemaparan empirik hasil penelitinnya di beberapa tempat seperti di Mojokuto (Pare), Bali dan Maroko. Secara keseluruhan, karya Geertz ini berbicara tentang apa itu kebudayaan, peran apa yang dimainkan oleh kebudayaan dalam kehidupan sosial, dan bagaimana seharusnya semua itu dipelajari. Tentu saja Geertz tidak hanya mengkopi teori-teori kebudayaan yang telah ada. Dia melangkah lebih jauh. Dalam buku tersebut, Geertz berusaha melakukan pendefinisian ulang kebudayaan. Geertz berharap bukunya bisa menjadi sebuah risalah tentang kebudayaan yang dibangun di atas sejumlah analisis-analisis kongkret. Buku TIC (The Interpretation of Culture) diterbitkan tahun 1973...
Who had a beauty too much more than human? Oh, where are the snows of yesteryear! (Francois Villion) Sore yang indah baru saja pergi. Aku mengantarnya beranjak pergi dari jendela rumah studio. Aku titipkan salam rinduku untuk istri dan anak-anakku di kampung. Aku tahu, esok pagi dia akan menemui Amartya dan istriku di suatu desa yang jauh di sana. Kelinci berlarian di dekat jendela, lompat ke sana ke mari, menikmati hangatnya sore yang indah. Domba-domba di seberang sana, seperti biasa, tidak peduli dengan situasi apapun. Mereka hanya makan rumput. Sudah sebulan aku di Utrecht, Belanda. Meski terasa waktu berjalan lambat, akhirnya aku sampai juga di ujung bulan pertama. Berat sekali hidup tanpa anak dan istri. Apalagi Amartya lagi lucu-lucunya. Dia sedang mulai meniru kata-kata, mengenal benda-benda dan nama-nama. Aku tidak tega meninggalkan istriku sendirian. Tidak sepenuhnya kuasa meninggalkan anakku yang sedang berada dalam masa keemasan pertumbuhannya. Istriku dan Amartya harus m...
Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin* Dalam Islam, peranan teks (nas) memegang posisi yang sangat sentral. Teks yang dimaksud adalah Alquran dan Hadits. Dua hal tersebut oleh nabi sendiri disebut sebagai “warisan yang apabila kita semua berpegang pada keduanya niscaya tidak akan tersesat dalam kehidupan di dunia ini” Dalam keyakinan umat Islam, meski dalam beberapa hal masih diperdebatkan, Alquran dan Hadits adalah teks yang merangkum semesta realitas. Alquran dan Hadits bukan hanya kitab yang menerangkan hal-hal keagamaan seperti tata cara ibadah ritrual, dasar-dasar keimanan, hukum, masalah eskatologis dan lain-lain, tetapi benar-benar kitab kehidupan. Tak ada satupun yang luput dari keduanya. Sentralnya posisi teks dalam kehidupan umat Islam tersebut berangkat dari asumsi bahwa tekslah satu-satunya penjelas yang paling otoritatif. Teks diyakini merupakan jejak dari pemegang otoritas tertinggi (supreme authority), yakni Tuhan dan Muhammad sebagai rasul-Nya. Ketika Muhamma...
Comments