Sebulan di Utrecht
Who had a beauty too much more than human?
Oh, where are the snows of yesteryear!
(Francois Villion)
Sore yang indah baru saja pergi. Aku mengantarnya beranjak pergi dari jendela rumah studio. Aku titipkan salam rinduku untuk istri dan anak-anakku di kampung. Aku tahu, esok pagi dia akan menemui Amartya dan istriku di suatu desa yang jauh di sana. Kelinci berlarian di dekat jendela, lompat ke sana ke mari, menikmati hangatnya sore yang indah. Domba-domba di seberang sana, seperti biasa, tidak peduli dengan situasi apapun. Mereka hanya makan rumput.
Sudah sebulan aku di Utrecht, Belanda. Meski terasa waktu berjalan lambat, akhirnya aku sampai juga di ujung bulan pertama. Berat sekali hidup tanpa anak dan istri. Apalagi Amartya lagi lucu-lucunya. Dia sedang mulai meniru kata-kata, mengenal benda-benda dan nama-nama. Aku tidak tega meninggalkan istriku sendirian. Tidak sepenuhnya kuasa meninggalkan anakku yang sedang berada dalam masa keemasan pertumbuhannya. Istriku dan Amartya harus mengungsi ke kampung karena tidak mungkin tinggal di rumah kami di Pamulang. Amartya masih terlalu kecil, istriku butuh orang lain untuk membantu mengurusnya. Dia juga butuh kawan untuk menjalani hidup. Di Pamulang kami tidak punya saudara. Itulah mungkin waktu terasa begitu lama berlalu.
Utrecht kota yang lumayan bagus. Seperti umumnya kota-kota tua di Eropa, kota ini terdiri dari bangunan-bangunan tua yang umumnya gereja, musium, taman dan pusat kota dengan pedestrian dari batu bata merah yang luas dan bebas kendaraan. Udara bersih dan segar, tidak ada polusi. Seperti di Melbourne, di sini orang lebih memilih sepeda untuk bepergian ketimbang mobil atau motor. Jalur sepeda ada di mana-mana. Meski begitu, sepeda kadang membuat kota sedikit sembrawut. Tak jarang orang seenaknya mengunci sepeda di manapun mereka suka, di trotor, tiang listrik, pagar besi, pohon dan lain-lain. Sebenarnya ada fasilitas parkir sepeda, namun selalu penuh dan tidak bisa menampung semua sepeda yang di parkir. Jika ada angin besar atau seseorang menyenggol sepeda yang baris terparkir, sepeda-sepeda itu menjadi beranakan karena jatuh bertumpukkan.
Lebih dari yang lain, yang aku suka dari umumnya kota-kota di Belanda adalah kanal-kanalnya. Kanal-kanal itu dibuat hampir di setiap sudut kota. Kanal-kanal itu bersih dan rapih. Ada kayak, perahu, kapal pesiar mini berseliweran di kanal-kanal itu. Sepanjang sisinya kafe-kafe dan perkantoran berbaris rapi dan tertata. Minggu pertama di sini aku berkesempatan mencicipi naik kapal mewah bersama kawan-kawan peserta program sekolah musim panas. Pengalam yang menarik. Aku berkeliling kota dengan menyusuri kanal sambil menikmati minuman dan makanan. Yang lain menikmati wine dan bir, aku hanya jus jeruk.
Dua minggu lalu aku mencoba kanal yang lain. Tepatnya di dekat Kebun Raya kota Utrecht. Kanal ini lebih besar dan rupanya menjadi tempat tujuan wisata. Selama satu jam aku menggunakan perahu kayak menyusuri kanal jauh ke pedalaman. Aku mendayung melewati rimbun pepohonan, kebun bunga, peternakan, rumah-rumah warga, dan berujung di sebuah restoran pannenkoeken di dekat peternakan kuda dan sebuah hotel kecil. Di sana orang-orang menambatkan perahunya masing-masing untuk beristirahat sebelum kembali ke hulu sambil menikmati makanan khas di daerah itu: pancake. Aku beberapa kali berusaha untuk jatuh cinta pada kue itu, tapi selalu gagal. Buatku rasanya terlalu datar. Hanya tepung dengan sedikit gula di panggang ditambah sedikit sirup. Martabak jauh lebih enak ketimbang kue pancake itu. Aku pernah mencoba pancake apel, nanas dan pancake biasa, tetap saja lidahku tidak mau menerimanya. Baru setengah aku sudah mual. Setelah menikmati –tentu aku tidak menikmati—pancake, perahu dikayuh kembali ke tempat semula. Untuk menyewa perahu itu aku harus membayar 10 euro untuk 3 jam. Tidak terlalu mahal.
Aku masih akan tinggal di kota ini sebulan lagi. Program yang saya ikuti di Universitas Utrecht baru akan selesai akhir bulan Juli. Aku satu-satunya mahasiswa Indonesia dalam program itu. Seluruhnya ada 34 orang peserta. Sebagian besar mahasiswa asal Amerika dan Eropa. Ada 2 orang dari Afrika Selatan, Florence salah satunya, dan 2 orang mahasiswi dari China. Dan aku seorang dari Indonesia.
Jadwal kuliahku masih sangat sibuk. Setiap hari aku hanya pergi ke kelas dan pulang ke Uithoft, kota kecamatan tempat tinggalku selama di Utrecht. Kelasku di jalan Sint Achter Pieter, di daerah pusat kota. Aku biasanya turun di halte bus Janskerkhof dan sedikit jalan ke dekat patung Willibrordus dari Northumbria yang sedang naik kuda. Patung itu dibuat tahun 2006 untuk mengenang jasa pendakwah Kristen abad ke 6 bernama Willibrordus dari Northumbria, sebuah daerah di kerajaan Angels pada abad ke 6. Daerah itu kini berada di Inggris Utara. Willibrordus adalah Uskup Utrecht Pertama. Patung itu sengaja dibuat tidak menghadap ke jalan utama, tetapi menghadap ke jalan kecil berbata merah yang berujung di gereja tua yang biasa di sebut Dom van Utrecht. Seolah menggambarkan Willibrordus naik kuda hendak bergi berkhutbah di gereja itu. Saya melewati jalan kecil berbata merah yang diapit kafe-kafe dan pertokoan itu setiap hari.
Jalan itu berujung di perempatan persis di samping Dom. Menaranya dengan salib diatasnya sudah kelihatan dari jalan raya, tinggi menjulang, perkasa, namun terlihat kurang bahagia. Aku tahu hampir setiap gereja di kota itu tidak lagi, atau jarang sekali dipakai acara kebaktian atau ibadah. Fungsinya telah berubah jadi museum dan objek wisata. Setiap kali aku melewati gereja yang sudah tidak dipakai itu, aku membayangkan diriku sendiri sebagai biarawan yang belajar di monastery,semacam pesantren di abad pertengahan Kristen. Tentu dulunya Gereja tua yang disebut Dom itu adalah pesantren buat para biarawan menuntut ilmu-ilmu teologi agama Kristen. Di belakang gereja itu ada taman ditutup dinding yang menghubungkan gereja dengan bangunan tua lain. Taman di dalam kompleks gereja itu disebut Pandhof. Semacam ta’mir mesjid mungkin. Di bangunan-bangunan itulah dulu para santri di monastery mempelajari injil dan teologi Kristiani. Kini bangunan di belakang gerja itu dipakai oleh kampus Universitas Utrecht.
Beberapa kali aku masuk ke taman itu. Di dalam Pandhof itu ada papan kuning ditutup fiber bening bertuliskan cerita bagaimana taman, gereja dan bangunan-bangunan itu dulu dipakai. Pandhof sendiri dibangun abad ke 15 dan dipakai oleh para biarawan dan santri-santrinya belajar, bermeditasi dan lain-lain. Dulu di taman itu dilengkapi lentera raksasa yang cukup menerangi seluruh taman. Sampai abad ke 18 Pandhof masih dipakai untuk pekuburan para biarawan dan pendeta di sana. Bukan hanya itu, Pandhof pernah sepenuhnya kehilangan fungsi keagamaan. Pada abad ke 16 orang-orang sekitar gereja menggunakan taman itu untuk memelihara ayam, menjadikannya gudang penyimpanan grobak tua, dan tempat minum-minum dan pesta pora. Bahkan Pandhof juga pernah menjadi pasar daging dan gudang senjata.
Persis di depan pintu gerbang Pandhof yang bercat merah, di samping gereja, di dekat jalan menuju kelasku, patung seseorang bernama Francois Villion berdiri. Kenapa patung itu di simpan di samping? Mungkin karena selama hidupnya Villion adalah seorang penyair pengembara, pengkritik gereja, pemberontak, pembunuh dan buronan. Karya-karyanya, yang terutama puisi, sangat penting dalam sejarah kesusastraan Barat abad pertengahan. Namun gereja tidak suka karena dia pemberontak dan seorang bohemian nyentrik. Patung Villion menyambit siapapun yang berkunjung ke Pandhof dan mengawasi siapapun yang melintasi jalan di samping gereja.
Selama ini aku belum sempat main ke kota lain di Eropa. Dua minggu lalu sempat berkunjung ke Denhag bersama seluruh peserta program. Kami berkunjung ke Peace Palace, atau Istana Perdamaian, bangunan tua abad ke 18 yang sekarang dijadikan kantor dua lembaga hukum internasional sekaligus: Mahkamah Internasional dan Pengadilan Arbitrase Internasional.
Aku masuk ke ruang sidang, ke perpustakaan dan ke ruang-ruang lain di gedung itu. Duduk di kursi tempat hakim-hakim di Mahkamah Internasional memutuskan perkara, membayangkan mungkin suatu saat nanti aku yang akan duduk di kursi itu. Di ruang yang megah, berwibawa dan sedikit terasa angker itu juga pada tanggal 17 Desember 2002 pimpinan sidang, Hakim Gilbert Guillaume asal Prancis membacakan putusan yang menyakitkan buat orang Indonesia. Indonesia kehilangan dua pulau, Sipadan dan Ligitan. Para hakim, setelah sidang beberapa kali dan mendengarkan argument para pihak, akhirnya memutuskan bahwa kedua pulau itu berada dibawah kedaulatan Malaysia. Indonesia keok di ruang sidang ini! Relief-relief kaca berwarna-warni ukuran raksasa yang menghiasi langit-langit ruangan kayu itu mungkin telah menjadi saksi bisu berpuluh-puluh kasus diperdebatkan dan diputuskan. Menjadi saksi kemenangan dan kekalahan.
Istana Perdamaian sendiri mempunyai cerita yang menarik dan berharga bagi dunia. Denhag sejak dulu dikenal sebagai kota perdamaian. Pada bulan Mei 1899, ratusan orang diplopmat, politisi, ahli hukum, kalangan militer dan tukang lobi dari seluruh dunia tumpah-ruah ke ibu kota Belanda itu. Tentu saja delegasi Indonesia tidak hadir, karena Indonesia pada saat itu belum lahir. Mereka berkumpul di Istana Huis ten Bosch untuk mengikuti acara Konferensi Perdamaian Internasional.
Acara itu sendiri digagas setahun sebelumnya oleh Tsar Russia, Raja Nicholas II. Usulannya disambut Pangeran Edward VII, calon Raja Inggris yang merupakan sepupu Nicholas. Meski awalnya Edward menolak, untuk menghormati keponakannya yang baru jadi raja Rusia, akhirnya dia setuju untuk mengadakan Konferensi Perdamaian Internasional. Tempatnya di pilih di Denhag, kota perdamaian. Juga kota tempat sepupunya yang baru berumur 19 tahun, Ratu Wilhelmina bertahta memimpin Belanda.
Banyak yang dihasilkan dari pertemuan itu, namun ada dua yang paling penting: berdirinya Pengadilan Arbitrase Internasional dan disepakatinya hukum dan aturan berperang, terkenal dengan sebutan Konvensi Denhag. Pengadilan Arbitrase didirikan agar para raja Eropa dan Negara-negara lain yang terlibat perseteruan atau percekcokan tidak menyelesaikannya di medan perang, tetapi di atas meja perundingan. Alasan Tsar Nicholas mungkin karena para raja di Eropa bersaudara semuanya, sepupu-sepupu atau keponakan-keponakan, lantas kenapa harus berperang satu sama lainnya. Lebih baik berdamai. Tapi toh jikapun perang jadi pilihan untuk menyelesaikan masalah, harus ada hukum yang mengatur perang yang baik. Absurd memang. Tidak ada perang yang baik! Ya, tetapi perang yang tidak baik itu lebih baik dibuat sedikit manusiawi.
Setelah mahkamah arbitrasi berdiri, butuh kantor untuk orang-orang mewujudkan dunia tanpa perang tentunya. Andrew Carnegie, pengusaha paling kaya di dunia asal Amerika saat itu, terketuk hatinya untuk membiayai pembangunan gedung yang minggu lalu aku injak itu. Dia menyumbangkan kurang lebih 2 juta dollar uangnya untuk Istana Perdamaian. Untuk membangun gedung itu, Carnegie membuat sayembara arsitektur terbuka bagi siapapun di dunia. Sayembara itu dimenangkan oleh Louis M. Cordonnier dari Lille, Prancis. Mulai dibangun pada July 1907, bangunan megah berarsitektur Baroque itu baru selesai dan digunakan tujuh tahun kemudian. Hampir seratus tahun kemudian, seorang pemuda culun dari desa Bojong Kenyot mempunyai kesempatan masuk berkeliling ke setiap sudut ruangan di gedung itu, melihat patung-patungnya, melihat ornament relief dari kaca, menginjak ubin marmernya, duduk di kursi hakim terbuat dari kayu megah seperti singga sana, berjalan-jalan di tamannya, dan makan di kantinnya.
Ada satu hal lagi yang unik dari Istana Perdamaian Denhag. Setiap Negara diminta menyumbang alakadarnya baik bagi pembangunan maupun bagi perawatan gedung itu. Sumbangan itu, bukan hanya uang. Jam gadang di atas menara bangunan Istana yang mirip menara mesjid itu disumbangkan oleh Negara Swis. Jika anda masuk ke ruang sidang pengadilan arbitrase dan melihat ke atap ruangan, ornament kayu langit-langit yang sangit indah dan simetris, dan konon dibuat dengan tidak menggunakan paku atau mur sedikitpun, adalah sumbangan dari negara Paman Sam, Amerika. Di sebelah kiri pintu masuk ruang sidang ada patung besar dan beberapa patung kecil bercat emas mengkilau disumbangkan oleh Perancis. Ubin marmer seluruh ruangan disumbang Italia. Jepang menyumbangkan lukisan kanvas raksasa bergambar perempuan-perempuan jepang dengan kimono dan hutan bambo di ruang sidang yang lain. Ruang sidang yang ini dinamai ruang sidang “Jepang” karena ternyata jepang menyumbang bukan hanya lukisan, tetapi juga seluruh isi ruangan dan sejumlah uang untuk Istana Perdamaian. Di ruang Jepang itu ada sekitar 112 kursi di tata melingkar dengan meja ukuran sedang di simpan memanjang di tengah-tengah. Setiap kursi itu mewakili satu negara. Di setiap sandaran kursi bludru berwarna merah darah itu terpampang lambang negara masing-masing. Misalnya, ada gambar singa bermahkota dan kuda unicorn bertanduk memegang tiara dengan dua tulisan latin: “Dieu et mon droit” dan “Honi soit qui mal y pense”. Setalah saya cek di kamus, tulisan lambang Kerajaan Inggris itu berarti: “Tuhan dan Hak saya” serta “Jahat untuk orang yang berfikir jahat”.
Aku lihat satu persatu dengan teliti setiap gambar di kursu bludru merah darah itu, berharap tiba-tiba Garuda dengan tiga puluh empat bulu sayap dengan muka menghadap ke kanan dan lima symbol di dada terbang tiba-tiba. Aku lihat betul secara seksama sekali lagi. Tidak ada. Saya sempat melihat gambar dikursi-kursi itu seperti lambang garuda. Saya sempat senang, ini dia gerangan yang dicari. Tetapi garuda itu ternya berkaki seperi manusia sedang bertapa dengan tangah bersayap. Ternyata itu juga Garuda, tetapi garudanya lambang negara Thailand. Tentu saja garuda yang sakti berwarna kuning lambang negara kita tidak ada dikursi-kursi itu karena Indonesia ternyata belum menjadi anggota Pengadilan Arbitrase Internasional. Tidak seperti Thailand, Singapura, Filipina, Malaysia dan negara lain di Asia, negara kita tercinta sampai sekarang belum terdaftar menjadi anggota. Pasti karena kita belum mendaftar. Mungkin karena formulirnya dipalsukan atau pegawai urusan luar negeri terlalu sibuk mengurusi TKI. Tentu aku bercanda. Mereka sibuk tidak melakukan apa-apa.
Setelah puas berkeliling Istana itu aku dan rombongan diajak berkunjung ke markas Mahkamah Pidana Internasional. Letaknya tidak terlalu jauh dari Istana Perdamaian. Namun aku sedikit kecewa. Aku sebelumnya membayangkan akan masuk ke ruang sidang dan kantor-kantor di kompleks bangunan tua yang unik dan sedikit angker. Ternyata tidak. Kantor Mahkamah Internasional dulunya dibuat untuk gedung parkir. Bangunan modern dengan bentuk kubus dan kaca-kaca. Hanya ada plang kecil berwarna biru dengan tulisan berbahasa Prancis dan Inggris “Cour Penale Internationale”/ “International Criminal Court”. Artinya “Mahkamah Pidana Internasional”. Tidak seperti Istana Perdamaian, kantor Mahkamah dijaga ketat oleh polisi dan pihak keamanan. Ada barikade kawat berduri di dekat pintu masuknya. Lucunya, langit-langit bangunan itu sangat pendek. Kawanku dari Amerika, si James yang mantan pemain tenis lapangan, sampai harus menunduk. “Maklum, dulunya kantor ini untuk gedung parkir” kata pegawai Mahkamah yang mengantar kami.
Tujuan aku dan rombongan ke sana untuk melihat bagaimana proses persidangan berlangsung. Kami masuk ke ruangan kedap suara dengan lampu temaram mirip di bioskop. Kursi di susun menurun dengan balkon di belakang. Yang dilihat bukan film, drama atau ketoprak. Yang kami saksikan adalah persidangan. Yang memisahkan ruangan kami dengan ruang sidang utama adalah kaca tebal kedap suara. Untuk mendengar apa yang dibicarakan oleh hakim dan para saksi masing-masing pengunjung diberi earphone dengan lengkap dengan remotnya. Di remot itu ada beberapa tombol. Tombol satu untuk bahasa Inggris, tombol dua untuk bahsa Prancis dan tombol tiga untuk bahasa local kasus yang sedang disidangkan. Satu lagi tombol untuk volume.
Yang kami saksikan adalah persidangan untuk kasus kekerasan kemanusiaan di Kongo dan Republik Afrika Pusat. Namanya “Kasus Bemba”, karena terdakwa yang sedang disidang bernama Jean-Piere Bemba Gombo. Bemba adalah seorang politisi dan juga pengusaha di Kongo yang memprakarsai, mendanai dan menjadi komandan Gerakan Pembebasan Kongo (GPK). Atas permintaan kawannya, presiden Republik Afrika Pusat, Ange-Félix Patassé, Bemba memerintahkan pasukan GPK untuk menolong sang presiden Afrika Pusat yang sedang terancam oleh kudeta militer. Pasukan GPK terlibat aksi pembantaian dan pembunuhan warga sipil tak berdosa pada tahun 2002-2003. Bemba yang pernah menjadi wakil presiden Kongo itu dituduh bertanggungjawab atas kejahatan anak buahnya. Sejak kalah dari presiden Joseph Kabil pada pemilihan umum Kongo pada tahun 2006 Bemba hidup di pengasingan. Dia ditangkap Brussels, Belgia. Belgia adalah negara yang akrab baginya. Dia mendapatkan pendidikan magister dan doktoral serta memiliki banyak bisnis di negara itu.
Perjalanan yang melelahkan itu ditutup dengan bemain di pantai kota Denhag. Kami melepas senja yang telat datang di pantai Scheveningen. Yang lain minum wine dan bir. Aku seperti biasa, hanya es tes dengan jeruk lemon.
Comments