Posts

Showing posts with the label Esai budaya

Note on Gus Dur

Image
Ketika di pesantren Darussalam Ciamis, semasa SMA, saya seorang Gus Dur-ian sejati. Ada seorang kawan lain, Kholil namanya, yang juga seperti aku: menjadi fans berat Gus Dur. Posisi yang aku ambil untuk menjadi fans Gus Dur, saat di pesantren itu, kurang populer. Maklum, pesantrenku itu pesantren Persis/Muhammadiyah. Aku sering diledeki oleh kawan sebagai pengagum seorang yang Kiai plin-plan, Kiai pendukung Israel, Kiai nyeleneh karena mau ganti ucapan 'assalamu'alaikum' dengan selamat pagi, Kiai yang 'menyamaratakan' agama dan lain-lain. Pendirianku tidak goyah, aku tetap Gus Dur-ian hingga keluar pesantren. Aku tahul nama Gus Dur di pesantren sebelum aku masuk Darussalam, tepatnya di pesantren Darul Ulum, sebuah pesantren NU di kampungku. Pesantrenku adalah sebuah pondok NU tradisional. Semua santrinya tidak ada yang sekolah, kecuali aku dan saudara sepupuku. Itupun setelah minta izin yang sedikit ribet dari pak Kiai. Di pesantrenku dulu, kemanapun pergi santri w...

Perihal 'Cleaveage'

Image
Mungkin sekitar 6 dari 10 perempuan bule yang aku temui di jalan berpakaian dengan memperlihatkan belahan dada. 8 dari 10 memakai celana, rok atau baju diatas lutut memperlihatkan paha. Buat Iman atau Dumas hal ini jelas berkah. Buat saya juga tidak jauh berbeda. Memasuki musim panas di Melbourne selalu membuat lelaki normal kaya Iman, Sugeng dan Dumas penuh dilema: mereka tahu itu aurat, tapi masalahnya auratnya ada di mana-mana. Ingin rasanya, kata Dumas, mengalihkan pandangan dari pemandangan indah itu, cuma masalahnya, tengok kanan ada, tengok kiri ada, jongkok lebih bahaya. Nikmati saja ;) Apa yang bisa direnungkan dari cara kebanyak perempuan di Melbourne berpakaian? Ada homogenitas cara berpakaian yang itu jelas dibuat oleh industri. Kalau musim dingin: sepatu but dengan hak tinggi, celana ketat leging--biasanya berwarna hitam, baju ketat dan jaket. Kalau musim panas: serba simple dan terbuka, kacamata hitam, topi. Tapi bukan hanya itu: pakaian bisa mencerminkan struktur budaya...

YANG OTORITATIF DAN YANG OTORITER

Image
Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin* Dalam Islam, peranan teks (nas) memegang posisi yang sangat sentral. Teks yang dimaksud adalah Alquran dan Hadits. Dua hal tersebut oleh nabi sendiri disebut sebagai “warisan yang apabila kita semua berpegang pada keduanya niscaya tidak akan tersesat dalam kehidupan di dunia ini” Dalam keyakinan umat Islam, meski dalam beberapa hal masih diperdebatkan, Alquran dan Hadits adalah teks yang merangkum semesta realitas. Alquran dan Hadits bukan hanya kitab yang menerangkan hal-hal keagamaan seperti tata cara ibadah ritrual, dasar-dasar keimanan, hukum, masalah eskatologis dan lain-lain, tetapi benar-benar kitab kehidupan. Tak ada satupun yang luput dari keduanya. Sentralnya posisi teks dalam kehidupan umat Islam tersebut berangkat dari asumsi bahwa tekslah satu-satunya penjelas yang paling otoritatif. Teks diyakini merupakan jejak dari pemegang otoritas tertinggi (supreme authority), yakni Tuhan dan Muhammad sebagai rasul-Nya. Ketika Muhamma...

YANG OTORITATIF DAN YANG OTORITER

Image
Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin* Dalam Islam, peranan teks (nas) memegang posisi yang sangat sentral. Teks yang dimaksud adalah Alquran dan Hadits. Dua hal tersebut oleh nabi sendiri disebut sebagai “warisan yang apabila kita semua berpegang pada keduanya niscaya tidak akan tersesat dalam kehidupan di dunia ini” Dalam keyakinan umat Islam, meski dalam beberapa hal masih diperdebatkan, Alquran dan Hadits adalah teks yang merangkum semesta realitas. Alquran dan Hadits bukan hanya kitab yang menerangkan hal-hal keagamaan seperti tata cara ibadah ritrual, dasar-dasar keimanan, hukum, masalah eskatologis dan lain-lain, tetapi benar-benar kitab kehidupan. Tak ada satupun yang luput dari keduanya. Sentralnya posisi teks dalam kehidupan umat Islam tersebut berangkat dari asumsi bahwa tekslah satu-satunya penjelas yang paling otoritatif. Teks diyakini merupakan jejak dari pemegang otoritas tertinggi (supreme authority), yakni Tuhan dan Muhammad sebagai rasul-Nya. Ketika Muhamma...

Catatan tentang “Thick description” Cliffod Geertz

Buku The Interpretation of Culture karya Clifford Geertz adalah buku kumpulan esai di mana sebagian besar esai itu pernah dipublikasikan di berbagai penerbiatan ilmiah—kecuali bab satu. Esai-esai dalam buku itu seluruhnya berkaitan dengan konsep-konsep kebudayaan. Yang lebih menarik, kebanyakan dari esai-esai dalam bukunya itu berisi pemaparan empirik hasil penelitinnya di beberapa tempat seperti di Mojokuto (Pare), Bali dan Maroko. Secara keseluruhan, karya Geertz ini berbicara tentang apa itu kebudayaan, peran apa yang dimainkan oleh kebudayaan dalam kehidupan sosial, dan bagaimana seharusnya semua itu dipelajari. Tentu saja Geertz tidak hanya mengkopi teori-teori kebudayaan yang telah ada. Dia melangkah lebih jauh. Dalam buku tersebut, Geertz berusaha melakukan pendefinisian ulang kebudayaan. Geertz berharap bukunya bisa menjadi sebuah risalah tentang kebudayaan yang dibangun di atas sejumlah analisis-analisis kongkret. Buku TIC (The Interpretation of Culture) diterbitkan tahun 1973...

Catatan tentang “Thick description” Cliffod Geertz

Buku The Interpretation of Culture karya Clifford Geertz adalah buku kumpulan esai di mana sebagian besar esai itu pernah dipublikasikan di berbagai penerbiatan ilmiah—kecuali bab satu. Esai-esai dalam buku itu seluruhnya berkaitan dengan konsep-konsep kebudayaan. Yang lebih menarik, kebanyakan dari esai-esai dalam bukunya itu berisi pemaparan empirik hasil penelitinnya di beberapa tempat seperti di Mojokuto (Pare), Bali dan Maroko. Secara keseluruhan, karya Geertz ini berbicara tentang apa itu kebudayaan, peran apa yang dimainkan oleh kebudayaan dalam kehidupan sosial, dan bagaimana seharusnya semua itu dipelajari. Tentu saja Geertz tidak hanya mengkopi teori-teori kebudayaan yang telah ada. Dia melangkah lebih jauh. Dalam buku tersebut, Geertz berusaha melakukan pendefinisian ulang kebudayaan. Geertz berharap bukunya bisa menjadi sebuah risalah tentang kebudayaan yang dibangun di atas sejumlah analisis-analisis kongkret. Buku TIC (The Interpretation of Culture) diterbitkan tahun 1973...