Posts

Showing posts from 2011

Rimba Jalanan Jakarta

Image
Hujan. Tiap hari. Bisa berjam-jam tanpa henti. Jalanan becek. Genangan air di mana-mana. Aku tahu, jika seperti ini jakarta akan berubah jadi neraka dalam seketika. Mobil bisa menyelamatkan kita dari basah kuyup, tapi tidak bisa menyelamatkan dari antrian panjang, macet berjam-jam. Motor bisa menyelamatkan kita dari antrian panjang, tapi dengan resiko basah kuyup. Serba salah. Jangankan hujan, tak ada hujan tak ada anginpun jalanan Jakarta sudah gila. Macet luar biasa. Sepuluh tahun lalu ketika aku baru tiba di kota ini, hanya pada jam-jam sibuk saja jalanan mampat. Lewat jam itu jalanan masih bisa sedikit nyaman di lalui. Sekarang tidak. Sama saja. Setiap detik adalah kemacetan yang menyesakan. Kemacetan sebenarnya sesuatu hal yang biasa ditemui di semua kota di seluruh dunia. Paris macet. New York macet.Mumbai macet. Bangkok macet. Bogota macet. Tapi kota-kota itu memiliki alternatif buat orang agar keluar dari kegilaan kota. Ada jalan agar orang-orang tak menghabiskan seperempat um...

Al-Andalus: a Short Personal Reflection

Image
December 1491.  The last days was approaching. The siege had caused famine and misery. Abu Abdullah or Boabdil had to decide an unthinkable decision that will change the stream of history. He felt every breath he took and every move he made. [1] At the Hill of Martyr, accompanied by small numbers of his knights, he came to see Ferdinand and Isabella for the royal procession. He gave Ferdinand the last key of the Muslim palace on Iberian Peninsula. By that moment, the Muslim defeat was completed; the reconquesta was accomplished; the Moors was expelled. Before the last Sultan left the city, he turned his back and saw his lost kingdom for the last time before he crossed over to Africa and live as ordinary people. His mother said a memorial famous sentence for the coward Caliph: “You may well weep like a woman, for what you could not defend like a man” [2] Tariq Ali, a British-Pakistani historian and novelist, eloquently describes the tragic moment of the last days of Muslim Spain...

Bertapa di Kampus Leiden

Image
Sekali bermimpi, bersiap-siaplah untuk hal-hal mengejutkan. Kadang mimpi itu menjelma lebih cepat dari dugaan kita. Leiden adalah kampus impianku. Namanya pertama kali aku dengar dari Hafid, sang alumni yang dahulu ketika aku tsanawiyah datang ke sekolah dan bercerita tentang mimpi dan pengalamnnya. Alhamdulillah kini aku bisa hadir di sini, di kampus bersejarah sekaligus kampus tertua di Belanda. Kampus ini berdiri tahun 1575. Didirikan oleh Pangeran Willian van Orange, keluarga kerajaan pendiri Belanda, Raja Orange-Nassau. Masa perkuliahanku di kampus Universitas Utrecht sudah selesai. Sudah beberapa hari ini aku pindah ke kota Leiden. Kota ini tidak seramai Utrecht. Kota kecil yang asri namun sangat bersejarah. Seperti kota lain di Belanda, kanal-kanal dan pusat perbelanjaan dengan kios-kios tua dan jalanan ditegel bata merah mendominasi pemandangan kota. Bedanya, di sini kincir angin besar yang terlihat menyembul dari balik pepohononan membat suasana serasa benar-benar di Belanda. ...

“Tawaf” di “Lampu Merah” Amsterdam

K etika kejadian mengerikan itu sedang hangat-hangatnya diberitakan oleh hampir semua media di Eropa, aku sedang dalam perjalanan dari Leiden ke Amsterdam. Mendung menggelayut di langit Belanda sejak 3 hari lalu. Sesekali hujan dan angin kencang menerpa.  Aku duduk di lantai dua kereta cepat antar kota. Hujan yang mengguyur membuat kaca jendelanya dihiasi butiran air yang seperti bergelantungan dikaca sekuat tenaga melawan hembusan angin. Sepanjang jalan peternakan dan pertanian yang rapi terlihat tidak terlalu bahagia. Biasanya hijau ceria, kini mendung dan muram.  Padang gandum dan perahu-perahu kecil di kanal yang terlewati juga menandakan kesedihan. Lebih 80 orang meninggal dunia. Aku tidak sabar ingin segera sampai Amsterdam untuk melihat informasi di stasiun. Aku punya janji dengan Lisa di Amsterdam. Dia akan mengajaku jalan-jalan keliling kota dan singgah di apartemennya. Dalam kondisi seperti itu jaringan internet di HP sangat dibutuhkan. Selama di Eropa ini telepon ...

Sebulan di Utrecht

Image
Who had a beauty too much more than human? Oh, where are the snows of yesteryear!  (Francois Villion) Sore yang indah baru saja pergi. Aku mengantarnya beranjak pergi dari jendela rumah studio. Aku titipkan salam rinduku untuk istri dan anak-anakku di kampung. Aku tahu, esok pagi dia akan menemui Amartya dan istriku di suatu desa yang jauh di sana.  Kelinci berlarian di dekat jendela, lompat ke sana ke mari, menikmati hangatnya sore yang indah. Domba-domba di seberang sana, seperti biasa, tidak peduli dengan situasi apapun. Mereka hanya makan rumput. Sudah sebulan aku di Utrecht, Belanda. Meski terasa waktu berjalan lambat, akhirnya aku sampai juga di ujung bulan pertama. Berat sekali hidup tanpa anak dan istri. Apalagi Amartya lagi lucu-lucunya. Dia sedang mulai meniru kata-kata, mengenal benda-benda dan nama-nama. Aku tidak tega meninggalkan istriku sendirian. Tidak sepenuhnya kuasa meninggalkan anakku yang sedang berada dalam masa keemasan pertumbuhannya. Istriku dan Amartya harus m...

Liburan yang menyedihkan di Utrecht

Image
Semuanya karena hal sepele: lupa bawa kunci. Pagi itu saya hendak membuang sampah ke luar sambil menikmati secangkir teh manis. Karena berniat hanya beberapa menit saja keluar, saya tidak membawa kunci. Saya pikir pintu tidak perlu dikunci toh tidak akan ada yang masuk. Pintu apartemen juga masih terlihat karena tong sampah terletak di dekat tangga persis di samping kamar. Seolah tidak ada yang salah, saya kembali ke kamar. Teh sudah ham pir habis. Pintu kamar saya dorong. Tidak terbuka. Sekali lagi saya coba. Tetap tidak terbuka. Hati saya mulai berdebar-debar. Ketika itulah saya baru sadar bahwa rupanya pintu apartemen yang saya tempati dirancang untuk mengunci secara otomatis. Jadi jika penghuninya keluar rumah tanpa mengunci pintunya, pintu itu akan mengunci sendiri. Sebenarnya ini ide yang bagus. Setidaknya untuk alasan keamanan. Jika penghuninya buru-buru pergi dan lupa mengunci pintu, dia tidak perlu khawatir karena maling tidak akan bisa masuk. Namun buat saya saat itu, kunci o...