Setelah Amartya Hampir Sebulan
25 agustus 2009 Mengurus anak kecil lebih sulit ketimbang mengurus sebuah organisasi. Dia tak bisa diajak negosiasi, apalagi kompromi. Semua keinginannya harus dituruti. Masalahnya, kita harus menafsirkan apa keinginannya. Itu yang susah. Amartya jadi bos keluarga sekarang. Tak ada kompromi. Dia otoriter. Aku masih harus meraba-raba apa keinginannya. Setiap malam, sejak dia lahir, aku dan istriku kehilangan tidur pulas. Tangisannya akan meledak setiap 2 jam. Aku harus menerapkan ilmu hermeneutika untuk menafsirkan tangisannya. Apakah dia ingin makan? Itu selalu analisa pertama. Oke, ibunya akan dengan senang hati menyusui. Kadang setelah itu dia tidur lagi. Tapi seringnya terus menangis, mendendangkan nyanyian di malam sunyi. Penafsiran tangisan tahap kedua diterapkan: tangisannya berarti ingin ganti popok. Kita ganti popoknya. Masih nangis? Walah, mungkin kepanasan. Heater kita matikan. Biarkan kamar tanpa penghangat. Masih nangis juga? Mungkin Amartya kecapean tidur terlentang. Baik ...