Ini tamu yang lain. Mereka mengetuk pintu ketika aku sedang asik bermain dengan Amartya di kamar selepas Isa. jagoanku lagi beraksi: nungging-nungging, bolak-balik badan sambil bercericau. Ketukan pintu tak langsung terdengar. Kawan satu rumahku mengingatkan bahwa kita kedatangan tamu. Dengan baju seragam santai, bersarung dan kaus dalam oblong, aku melihat siapa yang datang dari lubang pintu.
Kali ini yang datang juga dua orang. Namun mereka tidak berdasi atau berkemeja rapi. Juga bukan orang Tionghoa atau orang Timur Indonesia. Mereka jelas Melayu, atau orang Jawa. Dari lubang pintu selalu wajah orang yang ada di balik sana terlihat lebih besar. Seperti melihat pakai lup atau kaca pembesar. Dari lubang pintu itu yang aku lihat jelas adalah janggutnya. Pakaian mereka putih-putih, mengenakan kopyah haji. Yang lain berkacamata dan berkopyah hitam
Ini juga tamu Allah. Juga akan datang untuk tujuan mulya: berdakwah. Aku tahu siapa kali ini yang datang. Mereka adalah jama'ah khuruj atau jama'ah tabligh. Ini adalah kunjungan yang ketiga kalinya ke apartemenku di Decarle. Dulu yang pertama datang adalah sekelompok jama'ah khuruj asal Indonesia. Sesepuhnya waktu itu orang Sukabumi. Mereka membawa serta pula jama'ah baru. Jama'ah baru ini mungkin sengaja dibawa agar banyak mahasiswa lain bisa bergabung. Dia seorang mahasiswa di Brisbane, sedang belajar ilmu perhotelan, dan baru bergabung dengan jama'ah sebulan sebelumnya.
Seperti kunjungan-kunjungan jama'ah sebelumnya, aku langsung membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Jika sukrelawan Jehovah selalu menolak masuk, pendakwah jama'ah tabligh selalu masuk dan menyempatkan minum sambil ngobrol ringan.
Yang datang berdua malam itu dari Singapura. Logat melayunya kental sekali. Pas masuk mereka sudah tahu siapa namaku. Mungkin nama dan alamat rumahku sudah ada dalam buku catatan mereka. Setelah berbasa-basi mereka, seperti juga jama'ah sebelumnya, mulai berdakwah. Mereka mengingatkan padaku betapa pentingnya berdakwah; betapa mulyanya para pendahulu yang telah menyebarkan Islam; betapa susahnya menjaga Iman dan Islam; betapa keshalihan dan akhirat harus lebih diutamakan ketimbang urusan duniawi dan lain-lain. Sesekali ayat Alqur'an dikutip. Biasanya aku hanya diam dan mendengarkan sambil sesekali menimpali singkat: 'betul pak...betul pak'
Untuk memecah kebuntuan aku biasanya akan menanyakan hal standar yang selalu aku tanyakan pada para pendakwah yang datang ke rumahku: asal bapak dari mana; sudah berapa lama bergabung dengan jama'ah; berapa lama akan di Melbourne; sudah pernah berdakwah ke mana saja dan lain-lain. Dari pertanyaan-pertanyaan kecil yang aku sampaikan itu aku banyak mendapatkan hal unik. Tamu yang datang terakhir ini sudah hamir 15 tahun berdakwah. Dia, dengan rendah hati, megaku baru berdakwah ke 15 negara. Mereka, seperti juga orang-orang jama'ah yang datang sebelumnya, membiayai perjalanan mereka dari uang mereka sendiri. Pak tua orang Singapura yang berjanggut dan berdahi hitam ini--karena kebanyakan sujud--mengaku sebagai pengusaha.
Tamu jama'ah yang datang sebelumnya memberiku informasi mengejutkan. Waktu itu mereka, rombongan sekitar 30 orang, akan berdakwah di 3 negara selama hampir 90 hari. Di Australia mereka akan keliling ke tiga kota: Melborune, Perth dan Sydney. Setelah itu mereka akan ke New Zealand dan terakhir akan ke sebuah negara kecil di Pasifik, aku lupa nama negaranya. Yang jelas negara jajahan Perancis. Mungkin Guam. Di negara Pasifik itu, tutur jama'ah yang datang padaku, mereka akan berdakwah pada komunitas muslim yang nenek moyangnya orang Jawa. Mereka bercerita bahwa orang di sana menganut Islam yang mirip dengan ajaran kejawen di Jawa. 'Mereka shalatnya menghadap ke Jawa, bukan ke kiblat' kata salah seorang di antara mereka.
Setiap para jama'ah itu datang, aku selalu ingat kampung halamanku. Tiga orang sudara jauhku bergabung dengan jama'ah. Akupun ketika sering mengaji di mushala kampung, sempat ikut bergabung bersama mereka. Mereka biasanya datang ke mushala-mushala kampung dengan bekal sendiri dan menetap di sana sekitar 2 atau 3 minggu. Selama menetap mereka mengadakan berbagai acara dakwah: pengajian hadits--selalu buku yang mereka pakai adalah karya Al-Khandalawi--pengajian anak-anak, dor-to-dor dakwah, membersihkan mushala dan lain-lain. Semacam pesantren kilat.
Awalnya tak ada masalah dengan jama'ah tabligh. Masyarakat di kampungku menerima dengan senang kedatangan mereka. Karena mereka mushala lebih ramai. Namun, masalah mulai muncul. Sejak banyak para jama'ah yang datang, beberapa orang kampung ikut bergabung. Beberapa di antara mereka juga mulai ikut 'khuruj' atau keluar kampung, berkelana ke kota lain, menginap di mushala, untuk berdakwah. Sebagian orang kampungku--saudara jauhku--yang ikut khuruj itu bukan orang mampu. Mungkin mereka pas-pasan.Semangat berdakwahnya membuat keluarganya uring-uringan. Uang hasil kerjanya sebagai buruh bangunan sering tidak masuk ke kas istrinya. Uang itu ditabung sendiri untuk membiayai perjalanan dakwah itu.
Aku masih ingat ketika beberapa orang mengadu pada bapakku. Bapakku tetua kampung. Intinya mereka yang datang itu ingin agar bapakku menasihati saudara jauhku yang bergabung dengan jama'ah dan sering keluar kota agar menghentikan kegiatannya. Pertimbangannya logis: lebih baik mengurusi anak istri dan keluarga ketimbang mengurusi dan dakwah pada orang lain. Kecuali sudah berkecukupan dan tidak ada masalah dengan uang. Kalau pas-pasan lebi baik uangnya digunakan untuk makan anak istri. Akhirnya, seingatku, saudarakun itu tak lagi ikut khuruj ke luar kota. Namun ia cukup aktif di mushala kampung. Itu kan lebih bagus, tetap di rumah, mencari nafkah, sambil tetap beribadah dan berdakwah.
Yang sering datang kerumahku lebih keren. Dawkahnya bukan antar kampung atau antar kota, tapi antar negara. Tamu jama'ah yang datang ke dua kali ke rumahku, orang Malaysia, seumuran bapakku sekitar 55 tahunan, menghabiskan uang sekitar sepuluh ribu ringgit untuk 'khuruj' ke tiga negara. Yang dari Singapura ini merogoh uang sekitar tujuh ribu dolar.
Aku salut pada mereka. Mereka berkorban, mengorbankan waktu, uang, tenaga untuk berdakwah. Aku kagum pada militansi mereka. Mereka sudah hampir menjamah seluruh dunia. Pak tua dari Sukabumi bilang padaku bahwa jama'ah khuruj dari Indonesia bahkan ada yang sudah pergi ke Argentina dan Peru untuk berdakwah. Di sana, seperti juga di sini di Melbourne, mereka akan tinggal rumah relawan atau mushala. Mereka akan datang ke rumah-rumah untuk sekedar menyampaikan satu-dua ayat atau mengajak shalat.
Aku menyebut mereka para tamu Allah. Mereka bertamu, berkunjung, karena satu misi: menyeru ke jalan Allah. Buat pendakwah dari saksi Yehovah, mereka ingin aku jadi domba yang tidak tersesat. Bagi para jama'ah khuruj, mereka ingin aku menjadi bagian dari gerakan dakwah global.
Namanya juga dakwah, mengajak, tentu yang diajak selalu punya pilihan: ikut atau menolak. Aku, dengan senyum dan ramah, lebih memilih untuk jadi tuan rumah yang baik tanpa perlu ikut bersama jalan mereka.
Comments