BOM DAN NASIB SEORANG KAWAN
Sebut saja namanya K. Aku tidak mau menyebut namanya utuh karena apa yang akan aku ceritakan belum pasti kebenarannya. Bahkan aku selalu berdoa semoga rumor itu tidak benar.
K kawan dekatku di sekolah. Ia brilian. Dalam setiap pelajaran dia mendominasi kelas dengan argumen-argumen yang logis dan kritis. Setahuku dia tidak pernah menjadi 'yang terbaik' di kelas. Namun hal itu bukan karena dia kalah cerdas dibanding kawan-kawan yang lain. Satu-satunya alasan karena hafalan dia tidak sebanyak kawan-kawan yang rangking 1 atau 2. Sistem pesantren menuntut seorang santri hafal banyak hal untuk bisa jadi ranking satu dan menjadi 'yang terbaik'. K tidak terlalu baik di bidang hafalan, namun mumpuni dalam beradu logika dan pemahaman satu persoalan. Itulah sisa-sisa kenanganku terhadap K. Memang kenangan masa-masa indah di pesantren dulu sudah semakin kabur seiring jauhnya masa itu aku tinggalkan. Namun aku tidak pernah ragu dengan kesan dan kenangan akan kecerdasannya di kelas.
Aku terakhir kontak dengan K sekitar semester 6. Aku dan K bertemu di kosan kawan. Kami masih sempat berdiskusi dan ngobrol banyak hal: dari cerita-cerita lucu di pesantren sampai diskusi Nietzsce yang waktu itu lagi benar-benar aku gandrungi. Saat pertemuan terkahir itu aku merasa K sudah sedikit berbeda dengan K yang sebelumnya aku kenal. Namun aku menganggap wajar saja. Perbedaan pandangan diantara kami ketika diskusi cukup tajam. Aku sok liberal. Lagi puber intelektual. Merasa semua yang Nietzcshean dan Foucaultian itu yang paling keren dan benar. Lagi gemar-gemarnya diskusi Derrida dan Heidegger. Menganggap studi Islam sebagai masa lalu yang perlu aku fahami dengan cara baru. K, di satu sisi, mulai bergerak ke arah lain. Dia mengkritik aku sebagai orang yang 'mulai terbaratkan'. Mulai tidak menghargai tradisi; menganggap cukup pada pengetahuan Islam yang baru se ujung jari. Namun karena kami biasa berbeda pandangan sejak diskusi-diskusi kami di pesantren, diskusi terakhir kami itu pergi begitu saja dari memoriku.
Ketika pertemuan terakhir K sudah tidak lagi kuliah di Ciputat. Dia sudah pindah ke L. Katanya dia mendapatkan beasiswa dan kuliah gratis. L juga jauh lebih baik untuk menimba ilmu agama. Saat itu aku langsung teringat Mas Uli. Dia yang dianggap liberal itu juga lulusan L. K bilang bahwa ada beberapa kaka kelas di pondok yang kebetuln juga kuliah di sana. Mereka sering bertemu dan berdiskusi di L.
Setelah pertemuan itu aku kehilangan kontak. Kawan-kawan yang lain juga sama. Sampai sekarang aku tidak pernah mengetahui kabar K yang sesungguhnya.
Namun sekitar 4 atau 5 tahun lalu, sekitar Februari atau Maret 2004, aku menemukan kabarnya. Saat itu aku masih tinggal di kos-kosan sederhana di Wisma Sakinah. Ketika menonton Metro TV tiba-tiba aku melihat sosok yang begitu akrab. Dia sedang duduk di persidangan. Dia menundukan muka. Namun aku tahu betul siapa dia. K, itu memang K. Tapi kenapa dia disana? Oh Tuhan, ya Allah, ternyata dia jadi pesakitan dan tersangka sebuah kasus 'terrorisme'. Dia dianggap terlibat bom Cimanggis. Untuk meyakinkan apa yang aku lihat di tv, beberapa kali aku mencoba mencari tahu pada Kang Google. Ternyata betul, beberapa berita di media menyebut namanya. Oh, apa yang salah dengan K. Atau apa yang salah denganku?
Rasa penasaran dan seribu pertanyaan itu terus menggelayut di benakku sejak saat itu. Aku tanya kawan-kawanku yang lain ketika di pondok tentang nasib dia; tentang apakah benar apa yang aku lihat di tv; tentang pertanyaan apakah benar dia terlibat? Seorang kakak kelasku di pesantren yang juga senior di organisasi F menguatkan dugaanku. Kata dia, seorang kawannya di pondok yang lulusan kampus L juga ditangkap karena terlibat kasus Cimanggis. Aku semakin yakin mungkin K dan kawan kakak kelasku di pondok itu satu jaringan.
Setiap peristiwa peledakan bom atau berita terkait hal itu, bayangan kopyah dan kacamatanya selalu muncul di benaku; bayangan dia yang sedang berargumen di kelas dan membuat aku dan kawan-kawan sekelas kagum hadir kembali. Bom Marriot dan Carlton kemarin mengingatkan aku pada semua hal tentang dia.
Kok bisa?
Kok bisa? Kenapa sosok sederhana, cerdas, kritis dan penuh cita-cita itu tiba-tiba terlibat?--dengan asumsi apa yang aku duga memang benar, semoga tidak. Kenapa kawan dekat tiba-tiba hilang. Kenapa anak muda yang penuh cita-cita harus menjadi martir? Bagaimana kita bisa menjelaskan seorang kawan dekat, seorang ustad yang santun, seorang tukang bunga sederhana, seorang tukang kunci, seorang dosen diperguruan tinggi, seorang pegawai hotel, tiba-tiba berubah menjadi mesin yang mematikan bagi orang lain; tiba-tiba bisa mengorbankan hidupnya untuk sebuah keyakinan?
Deprivasi relatif mungkin sebuah jawaban. Mereka merasa apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka mungkin 'terjerumus' karena mereka tidak menemukan jalan normal mencapai apa yang diharapkan. Tapi bukankah banyak sekali orang yang mengalami deprivasi? Saya kecewa karena hanya bisa mempunyai rumah kecil di Pamulang dan tidak rumah yang lebih baik di Pisangan. Buruh selalu kecewa karena uang gajinya sudah pasti habis sebelum pertengahan bulan. Petani terdeprivasi karena nasibnya tidak kunjung berubah. Deprivasi saja tidak cukup bung!
Oke, kita harus mencari alasan lain: ideologi. Mereka terdeprivasi, merasa dunia yang dihadapinya sudah rusak, kafir, menyimpang dan bukan dunia yang seharusnya. Datanglah pada mereka Ustad Nurdian bin M bin Top Markotop. Pembawaannya kalem dan berkarisma. Bicaranya selalu rendah, tidak meledak-ledak. Bahasa arabnya fasih. Menerangkanlah dia pada mereka hal-hal berikut: Setaiap orang Islam wajib ber-amar makruf dan nahyi munkar; Kita harus memperbaiki kondisi umat; harus hijrah; berjihad adalah kewajiban semua orang; pahala surga dan seribu bidadari menanti bagi siapapun yang mati ketika berjihad; pemerintahan yang ada, dari presiden dan rt kafir karena tidak mau menjalankan Syariat; memerangi kafir itu sebuah kemestian.
Sebagai tahap awal berjihad dan berhijrah, ustad Top Markotop ini akan meminta jamaahnya untuk membatasi pergaulan dengan sesama jemaah. Sebisa mungkin tetap baik dengan lingkungan sekitar, namun mereka tetap seperti hidup dalam sebuah gelembung udara: ada batas imajiner anatara jama'ah yang 'islami' dengan lingkuang sekitar yang 'kafir'. Della Porta menyebut proses ini sebagai spiral encapsulation. Seseorang seperti masuk dalam kapsul spiral yang ujungnya runcing. Semakin dia jadi aktivist gerakan ustad Top Markotop, semakin eksklusiv pergaulannya. Jembatan yang terbentang antara dia dengan masyarakat, tetangga, kawan di pondok, harus di bakar.
Mungkin K masuk dalam perangkap kapsul itu. Mungkin juga dia telah membakar jembatan yang menghubungkannya dengan kawan dan keluarga. Keluar dari kapsul itu sangat susah. Resikonya nyawa. Dia akan menjadi target pertama karena dianggap sebagai penghianat gerakan. Dalam hal ini aku berfikir mungkin alasan orang yang sudah terlibat dalam kapsul spiral gerakan terorisme rela meledakan dirinya adalah karena mereka menemukan resiko yang sama antara mati karena berkhianat (keluar dari jamaah) dengan mati karena mengorbankan diri untuk jihad. Tentu kalau sama-sama mati lebih baik mati 'jihad' ketimbang mati sebagai 'penghianat'.
Kekecewaan (relative deprivation) seperti rumput kering di musim kemarau, ideologi (normative framing) adalah bensinnya. Organisai super eksklusif dan kesempatan adalah apinya. Jadilah WTC runtuh, Bali bergemuruh, ribuan tubuh melepuh, ekonomi lumpuh. Duh, bom. Semoga K tidak begitu. Semoga itu hanya imajinasi aku saja. Amin. Salam buat K. Peace.
K kawan dekatku di sekolah. Ia brilian. Dalam setiap pelajaran dia mendominasi kelas dengan argumen-argumen yang logis dan kritis. Setahuku dia tidak pernah menjadi 'yang terbaik' di kelas. Namun hal itu bukan karena dia kalah cerdas dibanding kawan-kawan yang lain. Satu-satunya alasan karena hafalan dia tidak sebanyak kawan-kawan yang rangking 1 atau 2. Sistem pesantren menuntut seorang santri hafal banyak hal untuk bisa jadi ranking satu dan menjadi 'yang terbaik'. K tidak terlalu baik di bidang hafalan, namun mumpuni dalam beradu logika dan pemahaman satu persoalan. Itulah sisa-sisa kenanganku terhadap K. Memang kenangan masa-masa indah di pesantren dulu sudah semakin kabur seiring jauhnya masa itu aku tinggalkan. Namun aku tidak pernah ragu dengan kesan dan kenangan akan kecerdasannya di kelas.
Aku terakhir kontak dengan K sekitar semester 6. Aku dan K bertemu di kosan kawan. Kami masih sempat berdiskusi dan ngobrol banyak hal: dari cerita-cerita lucu di pesantren sampai diskusi Nietzsce yang waktu itu lagi benar-benar aku gandrungi. Saat pertemuan terkahir itu aku merasa K sudah sedikit berbeda dengan K yang sebelumnya aku kenal. Namun aku menganggap wajar saja. Perbedaan pandangan diantara kami ketika diskusi cukup tajam. Aku sok liberal. Lagi puber intelektual. Merasa semua yang Nietzcshean dan Foucaultian itu yang paling keren dan benar. Lagi gemar-gemarnya diskusi Derrida dan Heidegger. Menganggap studi Islam sebagai masa lalu yang perlu aku fahami dengan cara baru. K, di satu sisi, mulai bergerak ke arah lain. Dia mengkritik aku sebagai orang yang 'mulai terbaratkan'. Mulai tidak menghargai tradisi; menganggap cukup pada pengetahuan Islam yang baru se ujung jari. Namun karena kami biasa berbeda pandangan sejak diskusi-diskusi kami di pesantren, diskusi terakhir kami itu pergi begitu saja dari memoriku.
Ketika pertemuan terakhir K sudah tidak lagi kuliah di Ciputat. Dia sudah pindah ke L. Katanya dia mendapatkan beasiswa dan kuliah gratis. L juga jauh lebih baik untuk menimba ilmu agama. Saat itu aku langsung teringat Mas Uli. Dia yang dianggap liberal itu juga lulusan L. K bilang bahwa ada beberapa kaka kelas di pondok yang kebetuln juga kuliah di sana. Mereka sering bertemu dan berdiskusi di L.
Setelah pertemuan itu aku kehilangan kontak. Kawan-kawan yang lain juga sama. Sampai sekarang aku tidak pernah mengetahui kabar K yang sesungguhnya.
Namun sekitar 4 atau 5 tahun lalu, sekitar Februari atau Maret 2004, aku menemukan kabarnya. Saat itu aku masih tinggal di kos-kosan sederhana di Wisma Sakinah. Ketika menonton Metro TV tiba-tiba aku melihat sosok yang begitu akrab. Dia sedang duduk di persidangan. Dia menundukan muka. Namun aku tahu betul siapa dia. K, itu memang K. Tapi kenapa dia disana? Oh Tuhan, ya Allah, ternyata dia jadi pesakitan dan tersangka sebuah kasus 'terrorisme'. Dia dianggap terlibat bom Cimanggis. Untuk meyakinkan apa yang aku lihat di tv, beberapa kali aku mencoba mencari tahu pada Kang Google. Ternyata betul, beberapa berita di media menyebut namanya. Oh, apa yang salah dengan K. Atau apa yang salah denganku?
Rasa penasaran dan seribu pertanyaan itu terus menggelayut di benakku sejak saat itu. Aku tanya kawan-kawanku yang lain ketika di pondok tentang nasib dia; tentang apakah benar apa yang aku lihat di tv; tentang pertanyaan apakah benar dia terlibat? Seorang kakak kelasku di pesantren yang juga senior di organisasi F menguatkan dugaanku. Kata dia, seorang kawannya di pondok yang lulusan kampus L juga ditangkap karena terlibat kasus Cimanggis. Aku semakin yakin mungkin K dan kawan kakak kelasku di pondok itu satu jaringan.
Setiap peristiwa peledakan bom atau berita terkait hal itu, bayangan kopyah dan kacamatanya selalu muncul di benaku; bayangan dia yang sedang berargumen di kelas dan membuat aku dan kawan-kawan sekelas kagum hadir kembali. Bom Marriot dan Carlton kemarin mengingatkan aku pada semua hal tentang dia.
Kok bisa?
Kok bisa? Kenapa sosok sederhana, cerdas, kritis dan penuh cita-cita itu tiba-tiba terlibat?--dengan asumsi apa yang aku duga memang benar, semoga tidak. Kenapa kawan dekat tiba-tiba hilang. Kenapa anak muda yang penuh cita-cita harus menjadi martir? Bagaimana kita bisa menjelaskan seorang kawan dekat, seorang ustad yang santun, seorang tukang bunga sederhana, seorang tukang kunci, seorang dosen diperguruan tinggi, seorang pegawai hotel, tiba-tiba berubah menjadi mesin yang mematikan bagi orang lain; tiba-tiba bisa mengorbankan hidupnya untuk sebuah keyakinan?
Deprivasi relatif mungkin sebuah jawaban. Mereka merasa apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka mungkin 'terjerumus' karena mereka tidak menemukan jalan normal mencapai apa yang diharapkan. Tapi bukankah banyak sekali orang yang mengalami deprivasi? Saya kecewa karena hanya bisa mempunyai rumah kecil di Pamulang dan tidak rumah yang lebih baik di Pisangan. Buruh selalu kecewa karena uang gajinya sudah pasti habis sebelum pertengahan bulan. Petani terdeprivasi karena nasibnya tidak kunjung berubah. Deprivasi saja tidak cukup bung!
Oke, kita harus mencari alasan lain: ideologi. Mereka terdeprivasi, merasa dunia yang dihadapinya sudah rusak, kafir, menyimpang dan bukan dunia yang seharusnya. Datanglah pada mereka Ustad Nurdian bin M bin Top Markotop. Pembawaannya kalem dan berkarisma. Bicaranya selalu rendah, tidak meledak-ledak. Bahasa arabnya fasih. Menerangkanlah dia pada mereka hal-hal berikut: Setaiap orang Islam wajib ber-amar makruf dan nahyi munkar; Kita harus memperbaiki kondisi umat; harus hijrah; berjihad adalah kewajiban semua orang; pahala surga dan seribu bidadari menanti bagi siapapun yang mati ketika berjihad; pemerintahan yang ada, dari presiden dan rt kafir karena tidak mau menjalankan Syariat; memerangi kafir itu sebuah kemestian.
Sebagai tahap awal berjihad dan berhijrah, ustad Top Markotop ini akan meminta jamaahnya untuk membatasi pergaulan dengan sesama jemaah. Sebisa mungkin tetap baik dengan lingkungan sekitar, namun mereka tetap seperti hidup dalam sebuah gelembung udara: ada batas imajiner anatara jama'ah yang 'islami' dengan lingkuang sekitar yang 'kafir'. Della Porta menyebut proses ini sebagai spiral encapsulation. Seseorang seperti masuk dalam kapsul spiral yang ujungnya runcing. Semakin dia jadi aktivist gerakan ustad Top Markotop, semakin eksklusiv pergaulannya. Jembatan yang terbentang antara dia dengan masyarakat, tetangga, kawan di pondok, harus di bakar.
Mungkin K masuk dalam perangkap kapsul itu. Mungkin juga dia telah membakar jembatan yang menghubungkannya dengan kawan dan keluarga. Keluar dari kapsul itu sangat susah. Resikonya nyawa. Dia akan menjadi target pertama karena dianggap sebagai penghianat gerakan. Dalam hal ini aku berfikir mungkin alasan orang yang sudah terlibat dalam kapsul spiral gerakan terorisme rela meledakan dirinya adalah karena mereka menemukan resiko yang sama antara mati karena berkhianat (keluar dari jamaah) dengan mati karena mengorbankan diri untuk jihad. Tentu kalau sama-sama mati lebih baik mati 'jihad' ketimbang mati sebagai 'penghianat'.
Kekecewaan (relative deprivation) seperti rumput kering di musim kemarau, ideologi (normative framing) adalah bensinnya. Organisai super eksklusif dan kesempatan adalah apinya. Jadilah WTC runtuh, Bali bergemuruh, ribuan tubuh melepuh, ekonomi lumpuh. Duh, bom. Semoga K tidak begitu. Semoga itu hanya imajinasi aku saja. Amin. Salam buat K. Peace.
Comments