Posts

Sebulan di Utrecht

Image
Who had a beauty too much more than human? Oh, where are the snows of yesteryear!  (Francois Villion) Sore yang indah baru saja pergi. Aku mengantarnya beranjak pergi dari jendela rumah studio. Aku titipkan salam rinduku untuk istri dan anak-anakku di kampung. Aku tahu, esok pagi dia akan menemui Amartya dan istriku di suatu desa yang jauh di sana.  Kelinci berlarian di dekat jendela, lompat ke sana ke mari, menikmati hangatnya sore yang indah. Domba-domba di seberang sana, seperti biasa, tidak peduli dengan situasi apapun. Mereka hanya makan rumput. Sudah sebulan aku di Utrecht, Belanda. Meski terasa waktu berjalan lambat, akhirnya aku sampai juga di ujung bulan pertama. Berat sekali hidup tanpa anak dan istri. Apalagi Amartya lagi lucu-lucunya. Dia sedang mulai meniru kata-kata, mengenal benda-benda dan nama-nama. Aku tidak tega meninggalkan istriku sendirian. Tidak sepenuhnya kuasa meninggalkan anakku yang sedang berada dalam masa keemasan pertumbuhannya. Istriku dan Amartya harus m...

Liburan yang menyedihkan di Utrecht

Image
Semuanya karena hal sepele: lupa bawa kunci. Pagi itu saya hendak membuang sampah ke luar sambil menikmati secangkir teh manis. Karena berniat hanya beberapa menit saja keluar, saya tidak membawa kunci. Saya pikir pintu tidak perlu dikunci toh tidak akan ada yang masuk. Pintu apartemen juga masih terlihat karena tong sampah terletak di dekat tangga persis di samping kamar. Seolah tidak ada yang salah, saya kembali ke kamar. Teh sudah ham pir habis. Pintu kamar saya dorong. Tidak terbuka. Sekali lagi saya coba. Tetap tidak terbuka. Hati saya mulai berdebar-debar. Ketika itulah saya baru sadar bahwa rupanya pintu apartemen yang saya tempati dirancang untuk mengunci secara otomatis. Jadi jika penghuninya keluar rumah tanpa mengunci pintunya, pintu itu akan mengunci sendiri. Sebenarnya ini ide yang bagus. Setidaknya untuk alasan keamanan. Jika penghuninya buru-buru pergi dan lupa mengunci pintu, dia tidak perlu khawatir karena maling tidak akan bisa masuk. Namun buat saya saat itu, kunci o...

Mengenang Cak Nur

Image
Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin --Tulisan ini aku buat tanggal 31 Agustus 2005, dua hari setelah kematian Cak Nur dalam sebuah blocknote. Aku merasa harus memindahkannya ke komputer-- Dua hari lalu Cak Nur meninggalkan kita. Kepergiannya menyebabkan tetesan air mata tumpah di mana-mana. Cak Nur meninggal dunia pada saat yang tidak tepat: saat BBM melambung tinggi mencekik rakyat, saat korupsi semakin tak kunjung juga bisa diberantas, saat kondisi semakin terpuruk. Seandainya saya bisa bertatap muka dengan Tuhan, saya akan usul padanya agar catatan takdir dirubah: umur Cak Nur ditambah. Atau seandainya saya menjadi Sun Go Kong, sang monyet nakal dari legenda Cina yang datang ke tempat takdir dibuat dan kemudian mengacak-ngacak semaunya,  saya pasti akan mengganti takdir Cak Nur agar hidup lebih lama agar dia bisa terus memberikan masukan untuk perbaikan bangsa. Tapi itu semua hanyalah mimpi. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menerima kenyataan: Cak Nur dipanggil Kekasihnya. Dia tidak ma...

Menjadi Culturalist bersama Legrand

Dia seorang profesor di Universitas Sorbonne, Perancis dan menjadi ketua jurusan Perbandingan Hukum di universitas tersebut. setahun sekali dia modar-mandir Paris-Melbourne untuk mengajar di fakultas Hukum Universitas Melbourne, tempatku belajar sekarang. Mata kuliah yang dia ajar di sini, tak ragu lagi, adalah Perbandingan Hukum. Mata kuliah ini, sejak awal ketika aku melihatnya di buku panduan mata kuliah hukum, menajadi mata kuliah yang aku nantikan. Bukan hanya karena dosennya yang bagus, tapi juga karena aku merasa punya latar belakang yang relatif mendukung untuk menjajal menjadi ahli dibidang hukum perbandingan. Aku lulus dari fakultas Syariah, UIN Jakarta, jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum (PMH). Tentu fokusku ketika belajar di UIN dulu lebih pada perbandingan hukum Islam--lebih tepatnya perbandingan fikih, bukan hukum. Dengan mengambil jurusan ini, aku bisa memperluas wawasan dan pengetahuna tentang perbandingan hukum sistem-sistem pokok dunia--fokus pada sistem hukum Ing...

Note on Gus Dur

Image
Ketika di pesantren Darussalam Ciamis, semasa SMA, saya seorang Gus Dur-ian sejati. Ada seorang kawan lain, Kholil namanya, yang juga seperti aku: menjadi fans berat Gus Dur. Posisi yang aku ambil untuk menjadi fans Gus Dur, saat di pesantren itu, kurang populer. Maklum, pesantrenku itu pesantren Persis/Muhammadiyah. Aku sering diledeki oleh kawan sebagai pengagum seorang yang Kiai plin-plan, Kiai pendukung Israel, Kiai nyeleneh karena mau ganti ucapan 'assalamu'alaikum' dengan selamat pagi, Kiai yang 'menyamaratakan' agama dan lain-lain. Pendirianku tidak goyah, aku tetap Gus Dur-ian hingga keluar pesantren. Aku tahul nama Gus Dur di pesantren sebelum aku masuk Darussalam, tepatnya di pesantren Darul Ulum, sebuah pesantren NU di kampungku. Pesantrenku adalah sebuah pondok NU tradisional. Semua santrinya tidak ada yang sekolah, kecuali aku dan saudara sepupuku. Itupun setelah minta izin yang sedikit ribet dari pak Kiai. Di pesantrenku dulu, kemanapun pergi santri w...

Sisi Gelap Kota.

Kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya? Tunggu dulu. Aku mulai menemukan sisi lain kota yang indah ini. Semuanya perlahan tersingkap ketika aku mulai masuk kelas di fakultas Hukum. Gedung yang indah dengan arsitektur kubisme pasca-modern, taman yang luas, perpustakaan ideal dan dosen-dosen yang keren. Fasilitas yang aku dapatkan hampir tanpa batas. Dunia ada di ujung jari. Aku hanya tinggal menggerakan telunjuk untuk menekan tombol “enter’, seluruh dunia terbuka. Dari kampusku aku bisa masuk ke situs-situs manapun di dunia. Kecepatannya juga tidak seperti jika aku mengakses internet di kampusku di Ciputat yang lambatnya minta ampun. Dari kampusku aku hanya butuh waktu 2 detik untuk mengunduh satu jurnal bagus dari situs di Amerika. Kadang kalau lagi tidak sibuk, kecepatannya bisa sampai 1 mega per detik. Aku juga bisa nonton konser langsung group band U2 dari Amerika lewat situs Yutube. Buku-buku yang ingin aku baca juga tersedia. Kita tinggal cek di situs perpustakaan kampus apaka...

Setahun di Melbourne

Setahun sudah aku tinggal di sini, di apartemen nomer 68, flat unit nomer 7, jalan Decarle, kelurahan Moreland, kecamatan Brunswick, kota Melbourne, negara bagian Victoria, Australia. Waktu terasa cepat sekali. Terasa baru kemarin aku menghirup bau pohon ekalitus di kampus, bau khas yang selalu membawa ingatanku ke masa pertama ketika aku datang. Perasaan baru kemarin aku bergegas ke supermarket murah, Aldi, untuk membeli lotion penangkal sinar matahari (sunscreen lotion). Bau lotion itu selalu mengingatkanku pada jam-jam pertama aku tiba di kota ini. Juga terasa baru kemarin aku nyasar ke apartemen orang, minta tolong pada ibu setengah baya, orang India, untuk mencari tahu di mana apartemen tujuanku. Ibu itu tidak tahu. Aku akhirnya bertanya pada orang di seberang jalan yang lagi ngobrol. Aku terkejut, mereka ngobrol pakai bahasa Arab, bukan bahasa Inggris. Aku menebak dari wajahnya mereka orang dari daerah Mediterania. Dia tahu apartemen tujuanku. Aku berterima kasih: “Syukron ya akh...