Posts

Showing posts from 2010

Menjadi Culturalist bersama Legrand

Dia seorang profesor di Universitas Sorbonne, Perancis dan menjadi ketua jurusan Perbandingan Hukum di universitas tersebut. setahun sekali dia modar-mandir Paris-Melbourne untuk mengajar di fakultas Hukum Universitas Melbourne, tempatku belajar sekarang. Mata kuliah yang dia ajar di sini, tak ragu lagi, adalah Perbandingan Hukum. Mata kuliah ini, sejak awal ketika aku melihatnya di buku panduan mata kuliah hukum, menajadi mata kuliah yang aku nantikan. Bukan hanya karena dosennya yang bagus, tapi juga karena aku merasa punya latar belakang yang relatif mendukung untuk menjajal menjadi ahli dibidang hukum perbandingan. Aku lulus dari fakultas Syariah, UIN Jakarta, jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum (PMH). Tentu fokusku ketika belajar di UIN dulu lebih pada perbandingan hukum Islam--lebih tepatnya perbandingan fikih, bukan hukum. Dengan mengambil jurusan ini, aku bisa memperluas wawasan dan pengetahuna tentang perbandingan hukum sistem-sistem pokok dunia--fokus pada sistem hukum Ing...

Note on Gus Dur

Image
Ketika di pesantren Darussalam Ciamis, semasa SMA, saya seorang Gus Dur-ian sejati. Ada seorang kawan lain, Kholil namanya, yang juga seperti aku: menjadi fans berat Gus Dur. Posisi yang aku ambil untuk menjadi fans Gus Dur, saat di pesantren itu, kurang populer. Maklum, pesantrenku itu pesantren Persis/Muhammadiyah. Aku sering diledeki oleh kawan sebagai pengagum seorang yang Kiai plin-plan, Kiai pendukung Israel, Kiai nyeleneh karena mau ganti ucapan 'assalamu'alaikum' dengan selamat pagi, Kiai yang 'menyamaratakan' agama dan lain-lain. Pendirianku tidak goyah, aku tetap Gus Dur-ian hingga keluar pesantren. Aku tahul nama Gus Dur di pesantren sebelum aku masuk Darussalam, tepatnya di pesantren Darul Ulum, sebuah pesantren NU di kampungku. Pesantrenku adalah sebuah pondok NU tradisional. Semua santrinya tidak ada yang sekolah, kecuali aku dan saudara sepupuku. Itupun setelah minta izin yang sedikit ribet dari pak Kiai. Di pesantrenku dulu, kemanapun pergi santri w...

Sisi Gelap Kota.

Kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya? Tunggu dulu. Aku mulai menemukan sisi lain kota yang indah ini. Semuanya perlahan tersingkap ketika aku mulai masuk kelas di fakultas Hukum. Gedung yang indah dengan arsitektur kubisme pasca-modern, taman yang luas, perpustakaan ideal dan dosen-dosen yang keren. Fasilitas yang aku dapatkan hampir tanpa batas. Dunia ada di ujung jari. Aku hanya tinggal menggerakan telunjuk untuk menekan tombol “enter’, seluruh dunia terbuka. Dari kampusku aku bisa masuk ke situs-situs manapun di dunia. Kecepatannya juga tidak seperti jika aku mengakses internet di kampusku di Ciputat yang lambatnya minta ampun. Dari kampusku aku hanya butuh waktu 2 detik untuk mengunduh satu jurnal bagus dari situs di Amerika. Kadang kalau lagi tidak sibuk, kecepatannya bisa sampai 1 mega per detik. Aku juga bisa nonton konser langsung group band U2 dari Amerika lewat situs Yutube. Buku-buku yang ingin aku baca juga tersedia. Kita tinggal cek di situs perpustakaan kampus apaka...

Setahun di Melbourne

Setahun sudah aku tinggal di sini, di apartemen nomer 68, flat unit nomer 7, jalan Decarle, kelurahan Moreland, kecamatan Brunswick, kota Melbourne, negara bagian Victoria, Australia. Waktu terasa cepat sekali. Terasa baru kemarin aku menghirup bau pohon ekalitus di kampus, bau khas yang selalu membawa ingatanku ke masa pertama ketika aku datang. Perasaan baru kemarin aku bergegas ke supermarket murah, Aldi, untuk membeli lotion penangkal sinar matahari (sunscreen lotion). Bau lotion itu selalu mengingatkanku pada jam-jam pertama aku tiba di kota ini. Juga terasa baru kemarin aku nyasar ke apartemen orang, minta tolong pada ibu setengah baya, orang India, untuk mencari tahu di mana apartemen tujuanku. Ibu itu tidak tahu. Aku akhirnya bertanya pada orang di seberang jalan yang lagi ngobrol. Aku terkejut, mereka ngobrol pakai bahasa Arab, bukan bahasa Inggris. Aku menebak dari wajahnya mereka orang dari daerah Mediterania. Dia tahu apartemen tujuanku. Aku berterima kasih: “Syukron ya akh...

happy family

Image
Image

Para Tamu Allah 2

Image
I ni tamu yang lain. Mereka mengetuk pintu ketika aku sedang asik bermain dengan Amartya di kamar selepas Isa. jagoanku lagi beraksi: nungging-nungging, bolak-balik badan sambil bercericau. Ketukan pintu tak langsung terdengar. Kawan satu rumahku mengingatkan bahwa kita kedatangan tamu. Dengan baju seragam santai, bersarung dan kaus dalam oblong, aku melihat siapa yang datang dari lubang pintu. Kali ini yang datang juga dua orang. Namun mereka tidak berdasi atau berkemeja rapi. Juga bukan orang Tionghoa atau orang Timur Indonesia. Mereka jelas Melayu, atau orang Jawa. Dari lubang pintu selalu wajah orang yang ada di balik sana terlihat lebih besar. Seperti melihat pakai lup atau kaca pembesar. Dari lubang pintu itu yang aku lihat jelas adalah janggutnya. Pakaian mereka putih-putih, mengenakan kopyah haji. Yang lain berkacamata dan berkopyah hitam Ini juga tamu Allah. Juga akan datang untuk tujuan mulya: berdakwah. Aku tahu siapa kali ini yang datang. Mereka adalah jama'ah khuruj at...

Para Tamu Allah 1

Image
Mungkin orang dibalik pintu itu sudah mengetuk pintu beberapa kali. Aku tidak mendengarnya karena aku lagi asik membaca sambil mendengarkan musik pakai headphone. Ketika aku tengok dari lubang pintu, dia sudah akan pergi, menuruni tangga apartemen rumahku. Dari balik pintu aku melihat dua orang lelaki. Seorang mengenakan jas hitam rapi. Yang lain pakai kemeja berdasi. Yang satu, seseorang dengan jas hitam, seorang Tionghoa. Yang lain sepertinya orang Ambon atau orang dari daerah sekitar Indonesia Timur. Ketika aku membuka pintu mereka tidak jadi pergi. Aku minta maaf karena tidak lekas membuka pintu sambil mempersilahkan mereka masuk.  'Saya S' kata yang berjas. 'Saya L', yang lain dengan senyum memperkenalkan diri. Aku suah tahu siapa yang datang padaku pagi itu. Ini bukan pertama kalinya aku kedatangan dua orang tamu dengan pakaian rapi dan perlente. Aku juga sudah tahu apa yang akan mereka sampaikan; apa tujuan mereka bertamu padaku.  Seperti tamu-tamu sebelumnya mer...