Posts

Showing posts from 2009

Perihal 'Cleaveage'

Image
Mungkin sekitar 6 dari 10 perempuan bule yang aku temui di jalan berpakaian dengan memperlihatkan belahan dada. 8 dari 10 memakai celana, rok atau baju diatas lutut memperlihatkan paha. Buat Iman atau Dumas hal ini jelas berkah. Buat saya juga tidak jauh berbeda. Memasuki musim panas di Melbourne selalu membuat lelaki normal kaya Iman, Sugeng dan Dumas penuh dilema: mereka tahu itu aurat, tapi masalahnya auratnya ada di mana-mana. Ingin rasanya, kata Dumas, mengalihkan pandangan dari pemandangan indah itu, cuma masalahnya, tengok kanan ada, tengok kiri ada, jongkok lebih bahaya. Nikmati saja ;) Apa yang bisa direnungkan dari cara kebanyak perempuan di Melbourne berpakaian? Ada homogenitas cara berpakaian yang itu jelas dibuat oleh industri. Kalau musim dingin: sepatu but dengan hak tinggi, celana ketat leging--biasanya berwarna hitam, baju ketat dan jaket. Kalau musim panas: serba simple dan terbuka, kacamata hitam, topi. Tapi bukan hanya itu: pakaian bisa mencerminkan struktur budaya...

Model Sekularisme Buat Kita

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin Staf Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI). Aktif di Forum Muda Paramadina Pada era 70-an, publik dikejutkan oleh kontroversi pemikiran Nurcholish Madjid yang mempromosikan model sekular dalam bernegara. Gagasan tersebut saat itu dianggap gila karena berlawanan dengan arus utama umat Islam yang sejak awal menghendaki dijadikannya  Islam sebagai dasar negara Sekarang, sekularisme masih menjadi kontroversi. Sebagian masyarakat masih alergi dengan kata itu. Sekularisme sering dianggap sebagai sistem yang pasti menjauhi dan memusuhi agama. Karena itu, ide sekularisme hampir tidak pernah populer di kalangan mayoritas umat Islam Pandangan mayoritas umat tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Anggapan umum itu ada benarnya karena selama ini sekularisme kerap kali diartikan “negara anti-agama” atau setidaknya “netral-agama”. Negara adalah urusan publik sementara agama adalah hal privat.  Masyarakat, terutama umat Islam, menganggap cara pandang ini sang...

Setelah Amartya Hampir Sebulan

Image
25 agustus 2009 Mengurus anak kecil lebih sulit ketimbang mengurus sebuah organisasi. Dia tak bisa diajak negosiasi, apalagi kompromi. Semua keinginannya harus dituruti. Masalahnya, kita harus menafsirkan apa keinginannya. Itu yang susah. Amartya jadi bos keluarga sekarang. Tak ada kompromi. Dia otoriter. Aku masih harus meraba-raba apa keinginannya. Setiap malam, sejak dia lahir, aku dan istriku kehilangan tidur pulas. Tangisannya akan meledak setiap 2 jam. Aku harus menerapkan ilmu hermeneutika untuk menafsirkan tangisannya. Apakah dia ingin makan? Itu selalu analisa pertama. Oke, ibunya akan dengan senang hati menyusui. Kadang setelah itu dia tidur lagi. Tapi seringnya terus menangis, mendendangkan nyanyian di malam sunyi. Penafsiran tangisan tahap kedua diterapkan: tangisannya berarti ingin ganti popok. Kita ganti popoknya. Masih nangis? Walah, mungkin kepanasan. Heater kita matikan. Biarkan kamar tanpa penghangat. Masih nangis juga? Mungkin Amartya kecapean tidur terlentang. Baik ...

The Path for the Poor

Image
Book Review: ‘How Rich Countries Got Rich and Why Poor Countries Stay Poor’ Erik S. Reinert People, especially from developing countries, will be interesting to read this book by simply seeing its title. The title of this book, How Rich Countries Got Rich and Why Poor Countries Stay Poor, is presenting an imagination of several answers which relate to the problems of poverty they face every day in their countries. Indeed, not only the title which is interesting, the whole book is built by a clear logic and simple-popular language while at the same time rooted deeply in the author discipline of economics. Erik S. Reinert, the author, deliberately dedicated his book for three different audiences: his fellow economists, lay people who are interested in development issues and, importantly, people who are struggling to fight poverty, hunger and backward in poor countries. For economists the main message of the book is warning of the failure of the current established economic theory that ba...

BUNUH DIRI PARA TERORIS

Image
Kenapa Dani yang baru lulus SMA mau meledakan dirinya di Mariot? Kenapa Eko Peyang dan Air juga siap jadi martir dan rela meninggalkan anak istrinya? Kenapa tiba-tiba negara kita menjadi tempat subur bagi 'budaya' baru yang dinamakan bunuh diri? Bunuh diri sebagai fakta sosial telah diteliti jauh-jauh hari oleh Emile Durkheim, soko guru sosiologi modern asal Jerman. Menurut Durkheim, sebagai fakta sosial, fenomena bunuh diri bisa dikelompokan ke dalam tiga jenis: bunuh diri egoistik, alturistik dan anomik (Durkheim 1951) Pertama, bunuh diri egoistik terjadi karena individu tercerabut dari dunia sekitarnya. Ibarat pohon tercerabut dari tanah dan akar tempatnya hidup. Kehidupan yang sangat individualis adalah penyebab utama bunuh diri jenis ini. Durkehim menemukan fakta bahwa bunuh diri jenis ini lebih banyak ditemui pada masyarakat Protestan ketimbang Katolik. Alasannya karena dalam Protestantisme, individu semakin bebas dan punya otonomi. Kedua, bunuh diri alturistik terjadi ka...

SEHARUSNYA AKU BUKAN HMI

Image
Ciputat, 27 Desember 2005 (Tulisan lama ini sengaja dipasang untuk nostalgia dan berbagi dengan kader HMI lain, semoga bermanfaat) Tulisan ini mungkin hanya akan berisi unek-unek terhadap HMI. Saya adalah orang yang betul-betul mengalami proses di HMI. Berawal dari seorang yang diyakinkan dan di bujuk oleh seorang kaka, sampai menjadi seseorang yang terkadang terlalu cape menghabiskan sebagian waktunya di HMI. Saya kira siapapun itu—aktivis HMI maksud saya--pasti akan mengalami hal yang sama. Setiap orang berproses menjadi semakin HMI. Nah saya merenung:  proses itu akan selesai samapai kapan. Lalu, di tengah-tengah jalan, saya sering berpikir, kenapa saya harus berproses di HMI, padahal saya terkadang tidak terlalu tahu apa tujuan saya berproses di HMI. Bahkan, masih pentingkah HMI dalam kehidupan saya? Terus terang itulah kira-kira yang sangat mengganggu saya belakangan ini. Saya berpikir HMI jangan-jangan telah menjadi, sepenuhnya, non faktor dalam kehidupan saya. Baya...

Suratku Buat Cak Nur

Image
Ciputat, 28 Mei 2008. Dear Cak Nur, Bang, hampir setiap akhir pekan aku hilir mudik Bogor-Ciputat. Kawan-kawan HMI memintaku mengisi materi NDP (Nilai Dasar Perjuangan). Aku harus berdiskusi dengan ratusan calon kader selama berjam-jam. Kadang diskusi yang biasanya dimulai setelah isya baru berakhir menjelang subuh. Setiap kali aku memulai pembicaraan di forum itu, yang terbayang dibenakku adalah wajah abang. Aku selalu menceritakan terlebih dahulu konteks historis kenapa materi yang abang buat penting dalam perkaderan HMI. Aku bercerita tentang tiga orang yang dulu melahirkan materi yang menarik ini. “Dialah”, kataku, “yang dulu membuat materi yang kita kaji sekarang”. “Dia adalah Nurcholish Madjid”. “Dia dibantu dua orang kawannya yang lain: Endang Saifudin Ansari dan Sakib Mahfud”. Abang tentu masih ingat, NDP yang abang buat itu telah menjadi materi wajib perkaderan HMI sejak tahun 1969, tepatnya setelah kongres HMI di Malang. Abang, materi itu terus menjadi sesuatu yang p...

Kenapa Disalah Artikan?

Liberalisme menjadi kata yang sering disalahartikan dan di curigai. Pengalaman saya mengisi banyak training di HMI memberikan gambaran umum bagaimana masyarakat luas mensalahartikan konsep liberalisme. Kalau saya bertanya pada salah seorang peserta training untuk membayangkan apakah muncul kesan positif atau negatif ketika saya mengucapkan kata "liberal", hampir 70 persen peserta menangkap kesan negatif dari ungkapan kata itu Mereka umumnya begitu saja akan mengasosiasikan kata liberalisme atau liberal dengan 'Jaringan Islam Liberal'. Mereka juga biasanya akan dengan enteng menjawab: liberalisme faham dari barat yang merusa umat Islam. Yang lain akan menjawab, ketika saya tanya apa itu liberalisme, dengan jawaban sederhana: faham kebebasan tanpa batas. Tak jarang para peserta training mengungkapkan bahwa liberalisme itu adalah faham kebebasan tanpa batas; dimana orang dengan bebas berganti-ganti pasangan, seks bebas, ciuman disembarang tempat dan lain-lain. Peserta ya...

BOM DAN NASIB SEORANG KAWAN

Sebut saja namanya K. Aku tidak mau menyebut namanya utuh karena apa yang akan aku ceritakan belum pasti kebenarannya. Bahkan aku selalu berdoa semoga rumor itu tidak benar. K kawan dekatku di sekolah. Ia brilian. Dalam setiap pelajaran dia mendominasi kelas dengan argumen-argumen yang logis dan kritis. Setahuku dia tidak pernah menjadi 'yang terbaik' di kelas. Namun hal itu bukan karena dia kalah cerdas dibanding kawan-kawan yang lain. Satu-satunya alasan karena hafalan dia tidak sebanyak kawan-kawan yang rangking 1 atau 2. Sistem pesantren menuntut seorang santri hafal banyak hal untuk bisa jadi ranking satu dan menjadi 'yang terbaik'. K tidak terlalu baik di bidang hafalan, namun mumpuni dalam beradu logika dan pemahaman satu persoalan. Itulah sisa-sisa kenanganku terhadap K. Memang kenangan masa-masa indah di pesantren dulu sudah semakin kabur seiring jauhnya masa itu aku tinggalkan. Namun aku tidak pernah ragu dengan kesan dan kenangan akan kecerdasannya di kelas. ...

Rindu Tiada

Buat: Bleus. Ada rindu di laci hatimu yang kau tak ingin aku tahu Sebentuk cinta Getaran halus sutra jiwa yang ingin kau buat tiada Ada senyum merah delima Bibir lentur berirama yang kau tak ingin aku sapa Sebentuk melodi suci Dawai permata hati yang ingin kau buat pergi. Ada cinta di saku kalbuku yang aku tak ingin kau tahu Sebentuk sayang Getaran halus hati yang tak ingin kukhianati Maafkan bila cinta datang tiba-tiba Begitu saja Aku tahu kau telah berdua Ciputat, 8 April 2007.

Rindu Tiada

Buat: Bleus. Ada rindu di laci hatimu yang kau tak ingin aku tahu Sebentuk cinta Getaran halus sutra jiwa yang ingin kau buat tiada Ada senyum merah delima Bibir lentur berirama yang kau tak ingin aku sapa Sebentuk melodi suci Dawai permata hati yang ingin kau buat pergi. Ada cinta di saku kalbuku yang aku tak ingin kau tahu Sebentuk sayang Getaran halus hati yang tak ingin kukhianati Maafkan bila cinta datang tiba-tiba Begitu saja Aku tahu kau telah berdua Ciputat, 8 April 2007.

Cerita Tentang Kelahiran Amartya

Image
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke pada Allah yang telah menganugrahkan mutiara hidup dan amanah padaku. Kedua, dua jempol patut diacungkan pada istriku tercinta yang telah mengantarkan Amartya pada nafas dunia dengan tabah, sabar, kuat dan penuh kasih sayang. Ketiga, terima kasih harus diucapkan pad Ivon, sang bidan, Ms Leane Ms Keane, dokter anak, yang telah membantu persalinan, memeriksa Amartya, mengawasinya selama 3 hari di rumah sakit The Royal Women Hospital. Terakhir buat anda semua yang telah mendoakan kami, kami hanya bisa berterima kasih. Istriku mulai merasakan kehadiran Amartya jam 11.00 malam waktu Melbourne. Lendir kuning becampur sedikit darah keluar dan terlihat di pembalutnya. Perutnya di dera sakit seperti haid beberapa kali, namun belum rutin. Sakit itu kadang hilang begitu saja. Aku tahu itu pertanda Amartya akan segera datang. Namun ini baru awal masa perjuangan sang istri melahirkannya. Jum'at malam itu aku tidur larut. Selepas tengah mal...

Cerita Tentang Kelahiran Amartya

Image
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke pada Allah yang telah menganugrahkan mutiara hidup dan amanah padaku. Kedua, dua jempol patut diacungkan pada istriku tercinta yang telah mengantarkan Amartya pada nafas dunia dengan tabah, sabar, kuat dan penuh kasih sayang. Ketiga, terima kasih harus diucapkan pad Ivon, sang bidan, Ms Leane Ms Keane, dokter anak, yang telah membantu persalinan, memeriksa Amartya, mengawasinya selama 3 hari di rumah sakit The Royal Women Hospital. Terakhir buat anda semua yang telah mendoakan kami, kami hanya bisa berterima kasih. Istriku mulai merasakan kehadiran Amartya jam 11.00 malam waktu Melbourne. Lendir kuning becampur sedikit darah keluar dan terlihat di pembalutnya. Perutnya di dera sakit seperti haid beberapa kali, namun belum rutin. Sakit itu kadang hilang begitu saja. Aku tahu itu pertanda Amartya akan segera datang. Namun ini baru awal masa perjuangan sang istri melahirkannya. Jum'at malam itu aku tidur larut. Selepas tengah ...

Cerita Tentang Kelahiran Amartya 2

Amartya menghiburku dengan tangisan. Aku terpaksa harus berhenti menulis. Makanya aku buat tulisan ini berseri Setelah aku mengazani, Ivon sibuk membereskan semua alat-alat yang sudah dipakai melahirkan. Seorang dokter yang lain datang melihat kondisi istriku. Ia datang membawa timbangan bayi. Selang sekitar satu jam dari persalinan, Amartya diangkat dari dada ibunya. Kini saatnya bocah mungil itu di timbang. Beratnya 3,118 kilogram. Ideal, kata dokter. Normalnya antara 2,5 sampai 3,5. Pasnya 3 kilo. Panjangnya 50 senti meter. Setelah Amartya ditimbang, ibunya, istriku, disuruh bangun dari tempat tidur. Dokter memintanya mandi dan sedikit jalan-jalan. Akutidak tega. Aku tahu istriku masih kelelahan setelah berjuang lebih dari 10 jam menahan rasa sakit dan melahirkan. Tapi justru itu bagus, kata dokter. Membuat otot-otot sedikit longgar. Istriku menuruti. Dengan susah payah dia bangun dan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Dokter juga meminta istriku buang air kecil sebelum kami diperbo...